Mawar Rumi’s Journey Diary #2
“Your body is
away from me, but there is a window open from my heart to yours.” ~Jalaluddin
Rumi
“Nduk... Nduk... Bangun. Hari sudah mulai
petang. Sudah surup, waktunya sembahyang Maghrib.” Kata seorang
nenek berdialek medok bertudung kain tipis berpakaian adat jawa sembari
menggoyang lengan Mawar pelan-pelan.
Mawar perlahan membuka matanya dengan sedikit
kaget ada seorang nenek di dekatnya. Badannya tergerak duduk lebih tegak dan
mengatur nafas agar terlihat senormal mungkin. Mata Mawar juga terbelalak melihat
langit sudah berganti selimut menjadi jingga dengan hiasan burung-burung hitam
kecil beterbangan. “Iya, Nek. Tidak terasa saya tidur lama disini. Oh iya,
nenek siapa namanya? Asal nenek darimana kok jam segini masih di jalanan sini?”
tanya Mawar sedikit penasaran atas kehadiran nenek itu di dekatnya.
Sang nenek menengokkan kepalanya ke kanan kiri
penuh waspada untuk memastikan tidak ada telinga lain yang mendengarkan
pembicaraan mereka berdua. Lalu pandangan nenek itu menusuk tajam memandang
wajah Mawar Rumi seakan memastikan Mawar agar percaya pada apa yang akan dikatakannya.
“Parwati, Nduk, biasa dipanggil Mak Par sama warga sekitar. Dari daerah sini-sini
saja kok, rumah radak jauh dari sini. Ini saja baru selesai ngurus urusan di
desa seberang. Mampir di rumah ya, Emak ini hidup sendirian gak ada temennya. Besok
pagi kamu boleh melanjutkan jalanmu. Gak baik kalau anak perempuan jalan-jalan
sendirian malam-malam.”
Mawar Rumi terdiam, otaknya juga diam, ia
hanya khusyuk mendengarkan tuturan dari Mak Par yang baru saja menjawab
pertanyaannya. Di titik ini, ia tidak tau harus ikut Mak Par, ataukah tetap
bertahan di bawah pohon sampai mentari menyapanya besok. Kedua mata Mawar
melihat kedua bola mata Mak Par untuk mencari keyakinan jawaban. Akhirnya Mawar
memutuskan ikut ke rumah Mak Par. Ketika berjalan, Mak Par tidak banyak bicara,
begitupun dengan Mawar. Sampai suatu saat, perut Mawar berbunyi tanda lapar,
Mak Par tersenyum kearah Mawar yang dibalasan senyum lebar Mawar tanda
pengiyaan.
“Ojo leren lamun durung sayah, ojo mangan
lamun durung luwe, ojo lali karo asale. (Jangan lekas beristirahat kalau
belum lelah, jangan makan kalau belum lapar, jangan lupa pada asalnya.)”
nasehat Mak Par yang ditutup dengan senyum lagi. Mawar hanya diam dan berusaha
memahami nasehat tersebut dengan baik. Langsung saja Mawar teringat bahwa ia
membawa buku dan bolpen, ia duduk mendadak dan mencatat nasehat Mak Par
padanya. Mak Par melihatnya dengan tatapan wajar. “Ikatlah ilmu dengan
menulisnya, jika suatu saat nanti kamu lupa, kamu bisa membuka buku dan
membacanya lagi.” Lanjut Mak Par. Mawar Rumi menulisnya dengan profesional dua
nasehat yang didapat dari Mak Par.
Sudah tujuh ratus meter Mak Par dan Mawar berjalan,
sebelum keduanya masuk pada gang berlebar tiga puluh centimeter di kanan jalan
utama yang mereka lewati. Tersematkan papan kayu tergantung bertuliskan Gang
Laku. Mawar bertanya pada Mak Par, “Kenapa namanya Gang Laku, Mak? Apa banyak
orang jualan di gang ini?”
Mak Par lagi-lagi tersenyum, “Bukan, Nduk. Disini
tidak ada orang jualan, lihatlah rumah-rumah di depan sana, sepi tho? Mereka di
dalam rumah sedang mengabdi pada Tuhan di waktu malam, Nduk. Pemandangan
seperti ini wajar ditemui disini karena Tuhan adalah yang utama dalam
kehidupan, pada siang hari mereka sibuk berdzikir melalui pemenuhan kebutuhan
keluarganya. Ada yang ke hutan mencari kayu bakar, buah-buahan, menimba air di
sumur sumber, dan pergi ke gunung mencari tumbuhan obat-obatan. Sederhana,
Nduk, cara kami mengagungkan Tuhan. Seadanya.”
“Kalau boleh tau, mengabdinya bagaimana, Mak? Sholatkah?”
“Iya, sholat juga bisa, sembahyang bisa,
ngajar ngaji anak bisa. Banyak, Nduk. Sholat yang utama itu sholat yang dimulai
setelah salam sholat syariat dan itu susah. Tidak semua orang bisa melakukan
sholat utama itu. Jangan tertipu gerakan badan dalam beribadah tetapi rasa
pengabdian itu sendiri tidak ada ketika beribadah. Apalagi amalan-amalan yang
kamu dapatkan tanpa adanya guru sah. Bahaya, Nduk, bahaya. Lebih baik jangan
lakukan amalan aneh-aneh, ditakutkannya akan menghadirkan yang aneh-aneh dan
malah menjauhkan dari Tuhan. Nah, itu rumah Emak yang ada teploknya di setiap
tiang penyangga teras. Sederhana.”
Mak Par dan Mawar diam seribu bahasa kala
langkah kaki semakin mendekati rumah Mak Par. Rumah yang terpandang sangat
sederhana dengan empat tiang penyangga teras, berdindingkan gedeg, jendela
yang sebatas jeruji ranting pohon, dan daun pintu kehitaman betinggi satu
setengah meter. Mak Par mendahului Mawar untuk membukakan pintu. Namun, ntah
apa yang telah terjadi di rumah Mak Par, Mak Par kesusahan membuka daun pintu
yang tertutup. Refleks, Mawar Rumi menoleh ke belakang. Mengamati keadaan
sekitar untuk memastikan tidak ada suatu hal buruk yang menimpa rumah Mak Par.
Sunyi, sepi, sesekali suara jangkrik menemani.
Sekitarnya gelap. Pencahayaan teplok rumah-rumah warga tidak menjangkau
jauh. Mawar Rumi merasa ada sesuatu yang membelai halus kaki kirinya memutar seukuran
kakinya saja. Terikan kaget Mawar Rumi disertai loncatan ke samping kanan
menyita perhatian Mak Par yang kala itu baru saja berhasil membuka pintu rumah.
“Jangan berprasangka sebelum tau kenyataannya,
Nduk. Ndak baik. Kalau ingin berprasangka, berprasangkalah yang baik. Prasangka
buruk hanya akan menimbulkan keburukan-keburukan susulan. Takut itu boleh, tapi
hanya pada Tuhan, bukan pada makhluk.”
Mawar masih membisu walau air matanya terus
menetes karena kaget. Kucing Mak Par yang menyambutnya dirasa benar-benar
menyambutnya dengan penuh keterkejutan. Melihat Mawar yang tidak ada perubahan
sikap, kucing Mak Par langsung meloncat ke arah dada Mak Par untuk berlindung. Berkatalah
Mawar dalam hati, “Sebenarnya siapakah Mak Par yang sesungguhnya? Mengapa semua
ini terlihat sangat ganjil?”
Jari-jemari Mak Par membelai kepala kucing itu
sekali, lalu kedua mata Mak Par memandang kedua mata Mawar Rumi dengan
pandangan yang berbeda dari sebelumnya. Jantung Mawar kian memburu, nafas semakin
berat, ditambah air liur yang seakan-akan menggumpal kental. Mawar hanya pasrah
sampai beberapa detik kemudian terasa ada semacam kayu yang memukul tengkuk
lehernya. Gelap dalam takut tak tersadarkan.
Kau hanya bisa
takut kala kau tak mengingat-Ku. Ingatlah ketika tarikan dan hembusan nafasmu
beradu dalam setiap asma-Ku, tidakkah kau rasakan ketenangan yang mengalir
merdu dalam darahmu? Ingatlah Aku selalu dalam ketidaksadaranmu, maka Aku akan
menjagamu sepanjang itu. Ingat ya, Mawar Rumi-ku. Jangan dilupa.~
Komentar
Posting Komentar