NAURA

mawarrumi@yahoo.com

Namanya Naura, mahasiswi PAI yang baru saja menyelesaikan kuliahnya tiga bulan lalu. Kesehariannya hanya di dalam rumah tanpa diketahui pasti apa pekerjaannya. Kabar yang bertiup di masyarakat bahwa Naura masih menunggu wisuda dari universitasnya. Menurut lanjutan info yang tersiar bahwa universitas tempat Naura menuntut ilmu belum memberi konfirmasi lebih lanjut terkait wisuda.

Naura yang terlihat buru-buru memakai sepatu di teras rumah sembari membawa map coklat berhasil menarik perhatian ibu-ibu yang sedang jandon di rumah sebelah Naura. Bisik-bisik menjadi lebih menggema terdengar sampai telinga Naura.

“Monggo, bu-ibu.” Sapa Naura ke halaqah jandon seraya mengangguk memberi hormat dalam jalannya.

“Mau kemana, Nduk Naura? Kok tumben kelihatan batang hidungnya. Sudah di rumah lama kok ndak pernah main ya ke rumah tetangga.” Sanggah Bu Sri.

Baru Naura mau menjawab, Bu Tri sudah menimpali, “Lha iya tho, Bu. Gak pernah kelihatan tapi kalau nyanyi-nyanyi kedengarannya sampai lapangan seberang sungai Besar. Setiap hari ibunya selalu marahin dia. Kerjanya cuman tidur sama minum kopi saja.”

Naura ambil lalu apa yang didengarnya itu serta meninggalkan grup jandon begitu saja. Kenyataan yang memang tidak indah itu Naura benar rasakan. Mencari pekerjaan di era Corona bertahta bukanlah hal yang mudah. Ada banyak pekerja yang di PHK dengan dalih menurunnya angka konsumtif masyarakat di banyak sektor pekerjaan. Di samping itu, sekolah masih menggunakan sistem daring sehingga para guru banyak yang tidak mengajar offline di sekolah, termasuk guru PAI.

Pikiran-pikiran refleksi Naura membuatnya tidak fokus berkendara sehingga tanpa sengaja Naura menabrak gardu di pojok jalan tikungan yang ramai ditongkrongi mas-mas.

“Aduh, gawat. Masalah nambah nih nabrak tongkrongan genk Bastard.” Gumam Naura dalam hati sambil mendirikan motornya.

“Hei! Kalau naik motor tuh lihat pake mata! Untung kawan-kawanku gak ada yang luka kena tabrakanmu. Ngapain masih disini? Cepat pergi!” bentak anggota genk yang terlihat paling tua kurus kerontang dengan kumis tak beraturan.

“Naura Rasya. Nama yang indah. Mau ke kantor pos buat kirim makalah lomba? Kenalin, aku Fahri ketua genk Bastard. Maafin anggotaku sudah membentakmu.”

Nafas Naura semakin tidak karuan berhadapan dengan ketua genk yang mengetahui kepentingan dirinya. Anggukan kepala cukup mewakili jawaban atas semua perkataan yang ditujukan ke Naura. Naura melanjutkan perjalanannya ke kantor pos dengan tatapan ketua genk yang tidak berkedip sekali pun mengikuti Naura sampai tak terlihat.

***

Hadirlah tanggal 6 September. Tanggal yang paling ditunggu Naura untuk melihat pengumuman lomba makalah yang diikutinya. Dari pagi buta sampai dhuhur, belum ada pemberitahuan via email dari instansi terkait. Kemudian Naura memutuskan untuk menyapu dan mencuci baju. Satu jam telah berlalu, suasana mendadak terdengar sangat bising di depan rumahnya. Bu Nurma yakni ibu Naura berlari tergopoh-gopoh menghampiri Naura mencuci di belakang rumah.

“Hih, Nduk, kamu habis bikin masalah apa sama genk Bastard desa sebelah? Lihat tuh di depan, kamu dicariin mas-mas se-genk. Buruan! Desas-desus tetangga semakin ramai di sekeliling rumah.”

Naura membelalak, ia tak habis fikir kejadian beberapa minggu lalu membuat genk Bastard sampai nekat mendatangi rumah warga biasa seperti dirinya. Tanpa berfikir panjang, Naura meninggalkan cuciannya yang belum selesai ia cuci dan berlari ke depan rumah. Mata Naura takjub melihat ramai orang di sekitar rumahnya dan terhenti pada segerombolan kaos hitam genk Bastard. Naura tercekat.

Anggota genk yang pernah membentak Naura berjalan mendekat ke arah Naura diikuti beberapa anggota lainnya. Desas-desus terlihat semakin aktif memercik. Kepala Naura menunduk pasrah apapun yang akan terjadi.

“Sekarang kamu harus ikut kami ke pos kami di gardu yang kamu tabrak dulu. Kamu harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu. Bawa motormu sendiri di belakang kami.”

Tanpa ba-bi-bu, Naura mengambil kontak motor lalu mengendarainya sesuai instruksi anggota genk tersebut. Warga sekitar menjadi kepo apa yang terjadi menimpa Naura si gadis yang memingit diri di rumah. Terlihat berbondong warga mengikuti Naura dan genk Bastard dari belakang, termasuk Bu Sri dan Bu Tri beserta anak-anak lelakinya.

Layaknya orang tersihir, Naura terdiam seribu bahasa mengikuti langkah anggota genk Bastard yang mendatangi rumahnya. Tibalah Naura di hadapan Fahri si ketua genk. Keringat Naura bercucuran membasahi kerudung parisnya disusul deru nafas semakin tidak tertata.

“Assalaamualaikum, Naura.”

“Wa’alaikumussalam warahmatullaah.” Jawab Naura berusaha santai.

“Kenapa itu banyak warga ikut kesini? Kan aku cuman minta Naura yang dibawa kesini. Nah, tuh ada ibunya Naura. Yaudahlah, malah baik.” Ucap Fahri ke anggota genk lain yang dijawab diam.

Suara warga bak dengungan yang tambah mengeras per menitnya membuat Fahri hilang kesabaran. Fahri mendekati garis warga berjajar dan meninggalkan Naura begitu saja. Namun, anggota genk paling tau menarik lengan Naura mendorongnya untuk mengikuti langkah Fahri mendekati warga. Fahri berdehem-dehem sebelum memulai pembicaraannya setelah mengetahui Naura menyusulnya.

“Wah, ternyata ada banyak warga yang berkumpul di markas Bastard. Tapi sayangnya genk Bastard tidak lagi bagi-bagi sembako. Boleh semua warga sekarang pergi meninggalkan kami?”

Bu Tri yang merasa kepo tidak bisa ditahan langsung menyerocos membalas perkataan Fahri. “Lha gimana tho kok kami disuruh bubar ki? Itu Nduk Naura mau diapain sama genk Bastard? Anak baik-baik kok didatengin genk kayak begini. Ya kami mau bubar asal Nduk Naura ya disuruh pulang.”

Tanpa komando, semua anggota genk Bastard yang berjumlah 20 orang langsung berjajar membuat pemisah antara warga dan ketua genk mereka, Fahri. Naura masih menunduk tanpa berani berkata-kata di belakang tubuh proporsional Fahri, membuat Bu Nurma pun semakin panik terhadap nasib anak perempuan semata wayangnya.

“Para warga sekalian, harap tenang dulu jangan ramai berdengung kayak lebah! Saya akan berbicara hal penting tentang Naura. Kalau kalian tidak bisa dikondisikan, maka Naura akan kami sembunyikan di suatu tempat rahasia.” Bentak Fahri seraya menengok ke Naura yang menelan sativanya dengan berat membuat Fahri sedikit tersenyum girang.

Sunyi. Semua warga membisu pasif dengan mata aktif mengamati sekitaran. Tiba-tiba terdengar ringtone odong-odong dari sebelah kiri yang membuyarkan fokus warga. Dengan santainya pak odong-odong meminta permisi dan berhenti persis di depan gardu Bastard seperti permintaan yang diminta Fahri kemarin. Anak-anak kecil yang turut diajak ibunya ke gardu semakin kencang menangis ingin menaiki odong-odong. Tetapi para ibu malah memarahi anaknya yang menangis itu.

Fahri duduk di pojok gardu sembari memberi isyarat jari kepada pak odong-odong untuk mengambil alih pembicaraan di depan warga. Lagi-lagi Fahri tersenyum melihat Naura yang tertunduk pasrah.

“Jadi gini lho, ibu-ibu. Mbak Naura dibawa kesini ini karena mbak Naura menang lomba makalah juara 1.”

Naura melotot tidak percaya lalu dengan tangan bergetar mengecek email di ponselnya yang baru saja berbunyi. Para warga meleleh dari kepasifannya dan mulai beralih bertanya alasan Naura tetap dibawa ke gardu Bastard.

“Naura.” Sapa Fahri kepada Naura.

“Iya? Eh, kok kamu tau kalau aku yang menang? Makasih ya udah bikin deg-degan. Hahaha...” ucapnya sambil memandang Fahri yang terlihat tampan tidak seperti citra ketua genk pada umumnya.

“Ibu-ibu sekalian, dan bu Nurma, saya mau meminta Naura menjadi istri saya, apa dikasih izin? Itu odong-odongnya gratis.”

Para warga otomatis bersorak “terima” disusul bu Nurma yang menganggukkan kepala.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mawar Rumi’s Journey Diary #2